Taekwondo
(juga dieja Tae Kwon Do, Taekwon-Do) adalah olah raga bela diri Korea yang paling populer dan juga merupakan olah raga nasional Korea, yang juga telah dipertandingkan di Olimpiade.
Dalam bahasa Korea, hanja untuk Tae berarti "menendang atau menghancurkan dengan kaki"; Kwon berarti "tinju"; dan Do berarti "jalan" atau "seni". Jadi, Taekwondo dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai "seni tangan dan kaki" atau "jalan" atau "cara kaki dan kepalan". Popularitas taekwondo telah menyebabkan seni ini berkembang dalam berbagai bentuk. Seperti banyak seni bela diri lainnya, taekwondo adalah gabungan dari teknik perkelahian, bela diri, olah raga, olah tubuh, hiburan, dan filsafat.
Meskipun ada banyak perbedaan doktriner dan teknik di antara berbagai organisasi taekwondo, seni ini pada umumnya menekankan tendangan yang dilakukan dari suatu sikap bergerak, dengan menggunakan daya jangkau dan kekuatan kaki yang lebih besar untuk melumpuhlan lawan dari kejauhan. Dalam suatu pertandingan, tendangan berputar, 45 derajat, depan, kapak dan samping adalah yang paling banyak dipergunakan; tendangan yang dilakukan mencakup tendangan melompat, berputar, skip dan menjatuhkan, seringkali dalam bentuk kombinasi beberapa tendangan. Latihan taekwondo juga mencakup suatu sistem yang menyeluruh dari pukulan dan pertahanan dengan tangan, tetapi pada umumnya tidak menekankan grappling (pergulatan).

Sunday, July 19, 2009

MENGENAL BELADIRI TRADISONAL KOREA : TAEKKYON

Kali ini saya ingin sedikit berbagi pengetahuan tentang seni beladiri tradisional Korea. Seperti Cina dan Jepang yang memiliki sejarah beladiri yang panjang, Korea memiliki banyak aliran seni diri, seperti juga Indonesia dengan banyak aliran silat.

Salah satunya adalah Taekkyeon, yang dalam ejaan romawi sering juga ditulis dengan Taekkyon atau Taekyon. Kenapa saya memilih Taekkyon, karena bela diri ini disebut sebagai cikal bakal Tae Kwon Do modern.

Taekkyon adalah salah satu bela diri tradisional Korea dengan tampilan seperti tarian. Taekkyon menggunakan banyak bentuk tehnik, termasuk kuncian tangan dan kaki bahkan sundulan kepala. Saat ini, bagaimanapun, gaya yang berbeda kadang-kadang tidak menekankan semua teknik yang telah ada. Dalam semua gaya, seperti halnya di abad-abad yang lalu, tendangan adalah yang paling dominan. Taekkyon mengajarkan banyak variasi tendangan yang bagus, terutama tendangan rendah dan tendangan melompat

Pergerakan Taekkyon mengalir dan terlihat seperti tarian dengan praktisi yang bergerak secara konstan, bisa dikatakan menyerupai Capoeira dan Kung Fu Shaolin tetapi tetap unik dalam banyak hal. Walaupun sebagian orang berpendapat bahwa gerakan Taekkyon memiliki persamaan tertentu dengan gerakan Taekwondo, prinsip dan teknik pada Taekkyon memiliki banyak perbedaan dari seni beladiri Korea yang lain. Sebagai contoh, Taekkyon tidak menggunakan gerak lutut kasar/kaku, metoda dan prinsip yang digunakan untuk melakukan suatu tendangan mengisyaratkan penekanan lebih pada kasih sayang (mensyukuri nikmat Tuhan) dibanding sekedar menunjukkan kekuatan.

Taekkyon menggunakan banyak gerakan sapuan, tendangan rendah menggunakan bagian depan kaki dan maupun tumit, juga tendangan tinggi, juga banyak menggunakan langkah tipuan. Pertarungan Taekkyon terlihat seperti tarian dimana petarung secara terus-menerus bergerak ke segala arah (maju mudur, kanan kiri) dengan posisi tubuh selalu siap dengan sikap penjagaan maupun penyerangan.

Dalam Taekkyon, tendangan rendah sering digunakan untuk menghalangi tendangan lawan, dan juga melakukan serangan langsung ke arah lutut lawan. Ada sekitar 10 jenis tehnik dasar yang dalam Taekkyon biasa disebut ddanjuk.

Gambar dinding yang ada di kuburan Era Goguryeo menunjukkan bahwa Taekkyon telah dilatihkan pada awal Era Tiga Kerajaan (Three Kingdoms Era) dan terus berlangsung dari era Goguryeo ke era Silla. Sumber tertulis mengenai Taekkyon yang paling awal adalah buku berjudul Manmulmo (juga Jaemulmo), ditulis sekitar tahun 1970 oleh Sung-Ji Lee.

Taekkyon tidak pernah terlihat menyebar secara luas dan di akhir abad 19 diketahui hanya ada satu kompetisi Taekkyon di seluruh daratan Korea. Tapi pada saat di puncak kejayaannya, bahkan Rajapun berlatih Taekkyon dan pertandingannya sering diadakan. Akan tetapi raja berikutnya menyalahgunakan pertarungan Taekkyon untuk perjudian, diceritakan sampai ada yang mempertaruhkan rumah bahkan istri. Hal ini menjadikan Taekkyon tak lebih dari sekedar seni beladiri militer belaka.

Taekkyon mengalami kemunduran disaat Neo-Confucianism berkembang, dan benar-benar “hancur” pada saat Jepang menjajah Korea. Taekkyon mengalami sedikit kebangkitan di masa sekarang, dengan ditetapkan sebagai “Important Intangible Cultural Asset No. 76” pada 01 Juni 1983. (mungkin bisa diartikan sebagai “Aset Budaya yang Tak Ternilai dan Penting”). Taekkyon merupakan satu-satunya seni beladiri Korea yang mendapatkan klasifikasi tersebut.

Hingga saat ini Takkyeon tetap dilestarikan oleh orang Korea, walaupun sebagian dianggap tak lebih sebagai sekedar olahraga daripada seni beladiri. Saat Taekkyon dipertandingkan dalam kompetisi, tehnik yang dipergunakan dibatasi, hanya pada tehnik bantingan dan tendangan. Nilai didapat dengan menjatuhkan lawan, membuat lawan keluar dari arena pertandingan atau dengan tendangan ke arah kepala. Tidak ada pukulan atau sundulan kepala dan secara sengaja melukai lawan tanding dilarang (karena tendangan kearah kepala dapat berakibat fatal, maka tidak boleh dilakukan dengan kekuatan penuh dan petarung juga dilarang menjatuhkan lawan dengan tubrukan tubuh seperti dalam Muay Thai). Hasil pertandingan seringkali ditentukan dengan cara petarung yang lebih dulu mendapatkan dua poin. Tetapi assosiasi Takkyeon modern menerapkan aturan yang sedikit berbeda.

Bagi mata yang tidak terlatih, pertandingan terlihat berbahaya walau di sisi lain terlihat begitu indah. Petarung saling berhadapan dengan tetap waspada, bergerak mengatur langkah secara konstan, melakukan gerak tipu dengan variasi langkah dan tendangan, kemudian menyerang dengan satu tehnik tiba-tiba yang dapat menjatuhkan lawan.

Pada tahun 1987 orang yang paling berjasa untuk pengembangan Taekkyon di masa kini, Song Duk-Ki yang pernah dianugerahi penghargaan nasional oleh Pemerintah Korea Selatan meninggal pada umur 94. Segera setelah itu, di tahun yang sama, Shin Han-Seung yang berjasa menjadikan Taekkyon sebagai salah satu “Important Intangible Cultural Asset” juga meninggal. Sejak saat itu, beberapa asosiasi Taekkyon tetap aktif mengembangkan Taekkyon walaupun dengan perbedaan tujuan sesuai asosiasi masing-masing.

Catatan :

1. Three Kingdom Era

Bukan hanya dalam sejarah Cina saja yang mengenal masa Tiga Kerajaan, dalam sejarah Korea juga ada Era Tiga Kerajaan, bila di Cina kita mengenalnya Samkok, dalam sejarah Korea disebut dengan Samguk Sagi (abad ke-12) and Samguk Yusa (abad ke-13).

Era Tiga Kerajaan (Korea) terdiri atas kerajaan :

Goguryeo (37 SM – 668)
Baekje (18 SM – 660)
Silla (57 SM – 935)

Zaman Tiga Negara (Cina)

Cao Wei (220-265)

Dong Wu (222-280)

Shu Han (221-263)

2. Important Intangible Cultural Asset

Merupakan status nasional yang diberikan Pemerintah Korea Selatan yang diberikan untuk tujuan melestarikan warisan budaya Korea, kebanyakan berupa seni tradisional dan bangunan kuno.


Video Atraksi Taekkyon :


Taekkyun #2 - The most amazing videos are a click away